Lhokseumawe – Pujatvaceh.com – Unjuk rasa yang dilakukan oleh Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk demokrasi (EK LMND) Lhokseumawe-Aceh Utara ini, dimulai dengan aksi berjalan kaki dari Masjid Islamic Center, menuju Tugu Rencong hingga Taman Riyadhah, Kota Lhokseumawe untuk melakukan orasi.
Mereka berjalan kaki sambil membentangkan alat peraga yang bertuliskan kritikan terhadap pemerintah, untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, mereka juga melakukan orasi secara bergantian di dua lokasi tersebut.
Dalam orasinya, mereka menyatakan sembilan pernyataan sikap untuk diselesaikan oleh pemerintah, diantarantya, meminta pemerintah Republik Indonesia untuk menciptakan master plane ekonomi merdeka.
Mengevaluasi program food estate, yang dinilai sebagai program pemborosan uang negara serta mengakibatkan konflik sosial budaya akibat perampasan ruang hidup masyarakat, serta meminta pemerintah untuk memberi modal, tanah, pengetahuan dan teknologi kepada nelayan dan petani, sebagai resolusi kedaulatan pangan Indonesia.
Alfathur Rizki, koordinator aksi, mengatakan, dalam aksi itu mereka juga menyinggung isu terkait Provinsi Aceh yang dinyatakan sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh kurangnya perhatian Pemerintah Aceh untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat, terlebih lagi ditengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Untuk keluar dari kemiskinan, Pemerintah Aceh harus membuka lapangan kerja, karena sejauh ini pemerintah hanya melihat secara angka, tanpa melihat secara ekonomi rumah tangga.
”Untuk kemiskinan di Aceh menurut data BPS ada 834,24 ribu penduduk miskin pada Maret 2021 dan naik 0,04 persen di bandingkan September 2020. Dan hari ini kita lihat sendiri bagaimana Pasal 34 yang seharusnya anak terlantar dan kemiskinan ini harus di lindungi Negara. Angka termiskin di Aceh ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah untuk membuka lapangan kerja terhadap anak muda yang di PHK akibat krisis kesehatan global” jelas Alfathur Rizki, Koordinator Aksi.





