Lhokseumawe – Pujatvaceh.com – Bertambahnya rumah sakit di Provinsi Aceh, menyebabkan jumlah tenaga anestesi yang dibutuhkan semakin meningkat.
Namun, hingga saat ini jumlah tenaga anestesi yang ada Aceh masih sangat minim, yakni sekitar seratus lima puluh orang. Padahal tugas sehari hari tenaga anestesi yaitu menangani pasien kritis baik saat operasi maupun di luar operasi.
Jika dihitung dengan jumlah penduduk di Provinsi Aceh, maka jumlah tenaga anestesi yang diperlukan sekitar 500 orang.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Dewan Perwakilan Daerah, Ikatan Penata Anestasi Indonesia Aceh, Muhammad Ridwan Jalani, dalam kegiatan pelantikan pengurus dan rapat kerja daerah DPD IPAI Aceh, di Hotel Lido Graha, Kota Lhokseumawe, Sabtu (30/10).
Menurutnya, kurangnya tenaga anestesi ini disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya, sejak dua tahun terakhir center tenaga anestesi masih sedikit, serta regulasi dan tuntutannya lebih sulit.
Terkait minimnya tenaga anestesi tersebut, kedepan pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah dinas kesehatan di seluruh kabupaten kota di Aceh.
Dengan kekurangan tersebut, setiap rumah sakit di Provinsi Aceh tentunya merasa kewalahan. Lantaran dalam sehari saja, tenaga anestesi di setiap rumah sakit harus merawat delapan hingga sepuluh orang pasien.
“Tenaga anestesi di Aceh masih sangat kurang, kalau kita kita lihat dari jumlah penduduk Aceh sekarang tenaga anestesi yang diperlukan sekitar 500 orang. Kekurangan ini dikarenakan, sejak dua tahun terakhir center tenaga anestesi masih sedikit, serta regulasi dan tuntutannya lebih sulit. Maka kita berpacu organisasi IPAI ini supaya kita menyalurkan, mendistribusikan dan mengarahkan untuk peningkatan sekolah apalagi regulasi untuk kedepan itu semakin lama semakin dituntut supaya kita lebih profesional,” jelas Muhammad Ridwan Jalani, Ketua Umum DPD IPAI Aceh.



