ACEH TENGGARA – PUJATVACEH.COM – Saat ini begitu banyak masyarakat yang meluangkan waktunya untuk berlibur, banyak orang yang ingin melihat langsung keberadaan orang utan di Pusat Penelitian Ketambe, kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, yang populasinya sendiri kian menurun dan masuk dalam daftar selangkah lagi sebelum menuju kepunahan.
Orang utan merupakan salah satu hewan kunci di Kawasan Ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang hinga kini masih bertahan. Individu pemakanan buah – buahan tersebut terlihat mencari pakan di atas pohon dalam lokasi Stasiun Penelitian Ketambe. Lebatnya pohon dengan jenis yang beragam, mampu menghasilkan pakan yang cukup untuk populasi mereka di kawasan konservasi ini. Namun, laju kerusakan hutan di wilayah itu juga dikhawatirkan dapat merusak dan memusnahkan keberlangsungan kehidupan hewan primata yang di lindungi seperti orang utan.
Farwiza Farhan, Ketua Haka Aceh Mengatakan, bahwa sebenarnya dalam enam tahun terakhir, laju kerusakan HUTAN di Aceh dan di LEUSER sudah mulai menurun, meski tidak berhenti sama sekali. Namun, di tahun 2020 terjadi kerusakan hebat di Kawasan Ekosistem leuser. Kenyataannya, Kawasan Ekosistem Leuser itu satu-satunya rumah orang utan sumatera yang masih tersisa, dan berada satu langkah lagi sebelum menuju kepunahan.
“Pada kenyataannya, ya memang tidak dapat kita pungkiri, Kawasan Ekosistem Leuser menjadi satu-satunya rumah bagi orang utan sumatera” imbuh Farwiza Farhan, Ketua Haka Aceh.
Kawasan Penelitian Ketambe yang di buka sejak tahun 1970, merupakan salah satu wilayah konservasi tertua, hingga kini memiliki ratusan individu hewan primata berbagai jenis. Salah satunya orang utan sumatera, yang merupakan spesies endemis. Karenanya, menjaga kelestarian hutan adalah keharusan, untuk kehidupan orang utan dan demi keberlangsungan di masa depan, untuk diwariskan kepada generasi kita selanjutnya.
Salah seorang pengunjung dari Aceh Besar menuturkan, ia merasa bangga dengan kehadiran Kawasan Penelitian Ketambe yang menjadi aset berharga bangsa.
“Kita patut bangga dengan tempat Penelitian Katambe, karena ini salah satu yang tertua dan menjadi asset kita dan asset negara tentunya.” kata Rubama, salah seorang pengunjung dari Aceh Besar.



