ACEH UTARA – PUJATVACEH.COM – Sebagian besar warga yang tinggal di pesisir Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara berprofesi sebagai petani garam. Seperti warga di Desa Matang Tunong, kecamatan setempat.
Namun, semenjak produksi garam sistem Geomembran yang digagas oleh pemerintah sejak tiga tahun lalu dianggap gagal, para petani garam tersebut mengalami dilema.
Para petani harus kembali mengolah garam dengan cara tradisional dan harus menghadapi kendala naiknya harga bahan baku kayu karena langka. Mereka harus mengeluarkan modal untuk keperluan bahan baku dengan harga lebih tinggi, sedangkan harga jual garam hanya Rp 5.000,- perkilogramnya.
Seorang petani garam Aceh Utara, Hamdani menjelaskan, produksi garam secara tradisonal sudah dilakukan secara turun temurun, namun sejak tiga tahun terakhir ada gagasan dari pemerintah Kabupaten Aceh Utara bersumber anggaran dari APBA dan APBN untuk memproduksi garam dengan sistem Geomembran di Desa Matang Tunong, kecamatan setempat.
“Menurut kami, sistem Geomembran yang disarankan semenjak tiga tahun lalu tidak jalan, malahan tenda-tenda yang digunakan untuk dijemur sudah rusak, sehingga produksi tdak ada selama tiga tahun terakir dari petani garam di desa kami” pungkasnya
Petani garam berharap pemerintah peduli terhadap petani garam dan mencari solusi terkait persoalan harga garam ataupun cara produksi garam yang lebih baik, sehingga kedepannya petani garam dapat hidup sejahtera.
Melihat fenomena tersebut, Forum Komunitas Hijau (FKH) meninjau ke lapangan dan mendengarkan keluhan para petani garam di Desa Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara.
“Produktivitas garam Aceh Utara sedang menurun dari pada pulau jawa. Terlihat dari tingkat keasinan air laut hanya berkisar antara 2 bamometer. sementara pada pulau jawa tingkat keasinannya mencapai 4 bamometer” ujar Happy Suhaimi, ketua FKH.
Selain itu, FKH juga akan berusaha mencari solusi menggantikan bahan bakar tersebut dengan lebih murah, dengan membangunan inovasi teknologi yang sesuai dengan potensi alam, sehingga kedepan hasil produksi garam bisa mencapai target maksimal.



