LANGSA – PUJATVACEH.COM – Petani diKota Langsa mulai mengeluh disebabkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi sejak beberapa minggu terakhir. Selain langka, pupuk bersubsidi juga  mengalami kenaikan dari harga sebelumnya.

Biasanya harga pupuk bersubsidi sekitar Rp. 110 ribu perkarungisi 50 kilo gram, namun sekarang meningkat menjadi Rp. 130 ribu perkarung. Sebagian petani terpaksa membeli pupuk non subsidi meski selisih harga jauh lebih mahal.

Kelangkaan pupuk telah terjadi sejak awal Desember 2020 hingga sekarang. Jenis pupuk tersebut adalah pupuk urea, yang sebelumnya langsung dididistribusikan daripusat dengan harga terjangkau.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Langsa Timur, Zulkifli berharap, adanya penanganan serius dari berbagai pihak perihal kelangkaan pupuk ini.

“Kelompok tani disini telah membuat Rencana Devinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) pada tahun 2020 untuk kebutuhan pupuk ditahun 2020, namun nyatanya pupuk urea masih juga langka. Semoga pemerintah mencari solusi terkait kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut” harapnya.

Bismi, salah seorang pengecer pupuk di Kota Langsa mengatakan, sudah selama dua bulan terakhir tidak menerima pasokan pupuk bersubsidi

“Biasanya kami mendapat pasokan pupuk bersubsidi setiap dua kali dalam sebulan. Namun hampir dua bulan terakhir ini, belum ada pasokan pupuk pupuk bersubsidi dari distributor. Kami juga belum mengetahui kendala keterlambatan pupuk bersubsidi tersebut” ungkapnya.

Untuk diketahui, perbandingan harga pupuk bersubsidi dan non subsidi diKota Langsa antara Rp. 1800 perkilogram, sementara pupuk non subsidi 4300 rupiah perkilogram. Para petani berharap, pemerintah mencari solusi terkait kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments