Swasembada Pangan Di Aceh Utara Tidak Mungkin, Petani Mohon Perhatian Presiden

Aceh Utara – Pujatv.com : Sedih dan harapan para petani di Aceh Utara kembali menggema, setelah lima tahun terjebak dalam dilema yang tak kunjung selesai.
Bendungan Krueng Pase, yang jebol sejak beberapa tahun lalu, hingga kini belum juga rampung pembangunannya. Kini menyisakan derita panjang bagi petani, di sembilan kecamatan yang sangat bergantung pada pasokan irigasi dari bendungan tersebut.
Harapan demi harapan terus diucap. Namun, sawah-sawah tetap mengering, hasil panen terus menurun, dan kehidupan para petani kian memprihatinkan. mereka kini memohon langsung kepada presiden republik Indonesia, untuk turun tangan menyelesaikan permasalahan, yang telah menjerat ketahanan pangan di daerah mereka.
Pemerintah telah beberapa kali menjanjikan percepatan pembangunan. Namun hingga april 2025, tidak ada kejelasan konkret. Proyek ini seolah menjadi teka-teki, diselimuti kabut ketidakpastian.

Padahal, dalam pidato-pidato nasional, presiden ri berulang kali menekankan pentingnya swasembada dan ketahanan pangan. Ironisnya, di Aceh Utara sebagai daerah dengan potensi lahan pertanian luas program itu nyaris tidak berarti tanpa air.
Tanpa bendung Krueng Pase, cita-cita swasembada pangan yang menjadi program unggulan presiden tidak akan bisa berfungsi di Aceh Utara. Kondisi ini diperparah oleh lambannya progres perbaikan bendungan, yang terletak di desa Lubok Tuwe Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Proyek yang semestinya menjadi penopang hidup ribuan petani, justru mangkrak dan membuat mereka terus bergantung pada hujan yang kian tak menentu.

Saat berkunjung ke lokasi bendungan pada Rabu 23 April 2024, bupati Aceh Utara, menyampaikan keprihatinan mendalam, dan menyerukan langsung kepada presiden, agar memberikan perhatian khusus terhadap penderitaan petani di Aceh Utara. Menurutnya, tanpa bendungan ini, petani kami akan terus menderita. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal ketahanan pangan dan masa depan anak cucu mereka.
Para petani di Aceh Utara, saat ini hanya bisa menggantungkan harapan terakhir mereka kepada presiden, agar kepedulian terhadap sektor pertanian tidak hanya menjadi narasi nasional. mereka tak lagi berbicara soal kemajuan, tetapi tentang kelangsungan hidup, yang nyata dirasakan hingga ke pelosok-pelosok desa yang telah lama menanti keadilan irigasi.





