Nagan Raya – Pujatvaceh – Guna mencegah kepunahan satwa langka yang dilindungi ini, petugas gabungan dari BKSDA Aceh, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP), melakukan evakuasi 2 ekor Orangutan Sumatera jenis Pongo Abelii, dari kawasan hutan di Desa Sumber Bakti, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya.
Evakuasi ini dilakukan guna menyelamatkan kepunahan hewan dilindungi tersebut dari konflik dengan masyarakat yang diakibatkan hilangnya habitat orangutan karena pembukaan lahan perkebunan sawit.
Usai menyusuri kawasan hutan dan perkebunan sawit hampir 4 jam lebih, akhirnya dua ekor orangutan berhasil dievakuasi petugas, sebelumnya 2 ekor orangutan tersebut dibius, yang ditembakkan pada tubuh satwa dengan menggunakan senapan angin.
Meski kondisinya sehat, namun dari pemeriksaan dan identifikasi petugas ditemukan 2 butir peluru senapan angin, yang masih bersarang pada dahi dan dada kanan pada individu orangutan betina. Untuk mencegah terjadinya infeksi, dokter hewan langsung mengambil tindakkan medis
Dokter Hewan SOCP, Andika Pandu Wibisono, mengatakan, 2 ekor Orangutan Sumatera yang dievakuasi itu, berjenis kelamin jantan dewasa berumur 20 tahun dan betina remaja berumur 15 tahun,
Kemudian ke 2 ekor satwa ini dipindahkan ke pusat reintroduksi orangutan di Jantho, Aceh Besar, untuk menjalani perawatan sementara sebelum di lepas liarkan di habitatnya.
“Kita dari pihah BKSDA Aceh dan SOCP mengevakuasi 2 individu orangutan untuk jantan dengan umur sekitar 15 sampai 20 tahun dengan kondisi sehat secara umum sedangkan yang betina umur 12-15 tahun kondisi agak kurus dari yang jantan tapi secara umum kondisinya sehat. Saat kita melakukan evakuasi ditemukan peluru di dahi dan di dada,” ucap Andika.
Kehidupan 2 ekor satwa ini terancam punah karena habitatnya semakin terisolir di kawasan lahan perkebunan sawit, tak hanya itu orangutang tersebut juga kerap menjadi ancaman senapan angin, akibat pemburuan yang dilakukan warga.
“Pada dasarnya orangutan ini sudah lama disini, karena ini sudah jadi pekebunan kelapa sawit, kemudian orangutan tersebut terjepit dan ada ancaman dari senapan angin, akibat pemburuan yang dilakukan warga,” jelas Satirin, Tim BKSDA Aceh.



