Bahlil Diminta Jelaskan Perbedaan Skema Bagi Hasil Blok Tangkulo dan Geng North

Banda Aceh – Pujatv.com Polemik mengenai skema bagi hasil pengelolaan gas di Blok South Andaman, khususnya Sumur Tangkulo, kembali menjadi sorotan publik pasca kunjungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Aceh.
Dalam kunjungannya, Bahlil menyatakan pemerintah akan membahas persoalan pengembangan Blok Andaman bersama Pemerintah Aceh. Pernyataan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat yang masih menunggu kejelasan mengenai manfaat proyek migas tersebut bagi Aceh.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah informasi mengenai besaran bagi hasil yang diterima pemerintah dari proyek Tangkulo. Sejumlah kalangan mempertanyakan informasi yang menyebut pemerintah hanya memperoleh porsi sekitar 4 persen, yang apabila mengacu pada mekanisme pembagian penerimaan migas untuk Aceh, diperkirakan berdampak pada penerimaan daerah sekitar 1,2 persen.

Hingga kini, pemerintah belum membuka secara resmi rincian skema bagi hasil maupun dokumen Plan of Development (POD) Blok South Andaman. Karena itu, informasi mengenai persentase tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari Kementerian ESDM, SKK Migas, maupun kontraktor pelaksana.
Perbandingan kemudian muncul dengan proyek migas laut dalam Geng North di Kalimantan Timur yang dikembangkan oleh kontraktor ENI. Berdasarkan data yang dipublikasikan pemerintah, proyek tersebut menggunakan skema kontrak yang memberikan porsi penerimaan negara lebih besar dibandingkan angka yang beredar terkait Blok Tangkulo.
Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan dari berbagai pihak mengenai dasar penetapan skema fiskal masing-masing proyek. Mereka menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pembagian bagi hasil, termasuk tingkat risiko, nilai investasi, keekonomian lapangan, serta ketentuan kontrak yang digunakan.
Selain itu, publik juga menyoroti perbedaan karakteristik kedua proyek. Geng North diketahui berada pada wilayah laut dalam dengan kedalaman mencapai sekitar 2.000 meter dan membutuhkan investasi yang sangat besar. Sementara itu, Sumur Tangkulo berada pada kedalaman sekitar 1.200 meter dengan nilai investasi yang disebut lebih rendah.

Sejumlah pengamat menilai keterbukaan informasi menjadi penting untuk menghindari spekulasi di tengah masyarakat, sekaligus memberikan kepastian mengenai manfaat ekonomi yang akan diterima negara dan Aceh dari proyek strategis tersebut.
Publik Aceh berharap pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM dapat memberikan penjelasan secara komprehensif mengenai skema bagi hasil Blok South Andaman, termasuk alasan penetapan formula fiskal yang digunakan dalam kontrak kerja sama dengan kontraktor pelaksana.
Dengan adanya penjelasan resmi, diharapkan polemik mengenai besaran penerimaan negara maupun daerah dapat dijawab secara terbuka, sehingga pengelolaan sumber daya alam di Aceh berlangsung secara transparan dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh pihak.





