Warga Tolak Tambang Emas, Pekerja PT MGK Luka Akibat Terkena Lemparan Batu

Aceh Barat – Pujatv.com : Situasi sempat memanas di lokasi tambang emas milik PT Megalanik Garuda Kencana atau MGK, di Desa Gleng, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.
Warga yang mengaku dari Aliansi Masyarakat Penyelamat Krueng Woyla atau AMPKW melakukan aksi anarkis yang melempari kapal pengeruk emas, sehingga mengakibatkan salah seorang pekerja mengalami luka di bagian kaki akibat terkena batu.
Insiden ini terjadi saat Tim Pansus DPRK Aceh Barat, perwakilan Dinas ESDM Aceh, dan Balai Wilayah Sungai meninjau lokasi tambang. Warga yang mengaku dari Sibak Krueng Woyla itu sudah berkumpul di area kapal dan mendukung DPRK untuk segera menghentikan dan mencabut izin PT MGK, karena dituding telah merusak lingkungan dan terjadi abrasi sungai serta kebun sawit warga.

Namun ironisnya, aksi penolakan tambang tersebut diwarnai dengan aksi pelemparan batu ke kapal milik PT MGK yang melibatkan anak-anak dan remaja, sehingga menyebabkan salah satu pekerja mengalami luka berat di bagian kaki akibat terkena lemparan batu.
Menanggapi kejadian itu, Direktur Utama PT MGK, Teungku Miswar sangat menyayangkan atas pelemparan batu ke kapal, sehingga menyebabkan salah satu pekerja mengalami luka dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh untuk dirawat.
Menurut Miswar, seharusnya warga harus menyampaikan aspirasi dengan damai, tidak perlu ada anarkis, karena perusahaan PT MGK telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan atau IUP dari tahun 2012 hingga 2032 di lahan seluas 3.250 hektare, dan mengantongi RKAB dari tahun 2025 sampai 2027, sehingga mereka telah bekerja sesuai SOP.

Pihaknya menduga, terkait peristiwa tersebut seperti sudah direncanakan dari awal oleh orang yang tidak senang dengan PT MGK, karena sebagian besar yang ikut aksi tersebut bukanlah warga yang tinggal di dalam wilayah IUP perusahaan, tapi dari luar IUP.
Pihak manajemen PT MGK juga akan mengambil langkah hukum dan melaporkan ke pihak polisi terkait pelemparan kapal dan jatuhnya korban luka bagi pekerja.
Sementara itu, Koordinator AMPKW, Dwie Abdullah membantah tudingan melakukan aksi anarkis. Mereka berdalih tidak melakukan aksi, namun hanya meninjau lokasi karena disuruh datang oleh Tim Pansus DPRK.
Pihaknya tidak pernah menginisiasi aksi dan sangat khawatir apa yang akan terjadi di lokasi. Mereka juga tidak mampu membendung emosi warga karena mereka dirugikan dengan adanya aktivitas tambang.





