Nagan RayaPujatvaceh.com- Seorang mahasiswi asal Nagan Raya yang juga merupakan  Hafizhah Qur’an 30 juz, Septia Ulfa Lestari, 22 tahun, meninggal dunia di Kairo, Mesir, pada Kamis lalu. Septia merupakan warga Desa Kuala Trang, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya.

“Kepergian yang dirindukan dan bidadari surga”, begitulah kalimat yang terdengar dari lontaran kerabat dekat di kediaman almarhumah Septia Ulfa Lestari, mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Tak ada foto yang terpajang dirumah duka, yang ada hanya tangisan keluarga yang sampai saat ini masih sabar menunggu kepulangan jasad  anak bungsu dari empat bersaudara itu dari negeri para nabi.

Dimata kerabat, Septia Ulfa Lestari atau yang lebih akrab disapa tari itu mempunyai sifat yang sangat baik, tekun, pintar dan patuh kepada keluarga. Menurut Iqbal  yang merupakan abang kandung dari Zuhra Intan kerabatnya, sejak kecil hingga satu universitas di Al-Azhar, almarhumah sangat pandai dalam ilmu agama, Tari sudah menghafal Qur’an 30 Juzz serta dirinya  menjadi salah satu mahasiswi Aceh yang mendapat Mumtaz (nilai istimewa) secara berturut turut. Dari keahliannya itu, Tari juga diberikan beasiswa dari Dermawan Aceh untuknya berupa hadiah untuk melaksanakan umrah.

“Almarhum pintar, rajin, patuh dan ia dapat beasiswa dari orang yang baik di Mesir, dan Alhamdulillah juga sudah berangkat haji, umrah dan Khatam Al-Quran setahun yang lalu,” ujar Iqbal selaku kerabat Almarhumah.

Kisah pilu kepergian sosok yang dibanggakan keluarga itu terlebih sangat dirasakan oleh ibu kandung almarhumah, Ibu Sudartik, menurutnya, saat Tari mengeluhkan sakit pada akhir Juni lalu menjelang ujian semesternya, dirinyapun sedang dalam kondisi lemah, sehingga Sudartik menyuruh saudara kandungnya Bintoro memperhatikan kondisi almarhumah melalui sambungan video call.

Pada Kamis pagi, sekira pukul empat pagi saudara kandung tari mengetuk pintu rumah dan memberi kabar bahwa adiknya sudah pergi dari keluarga untuk selamanya, suasana pun kian tersentak ketika Sudartik mendengar kabar  itu dari anak laki-lakinya, Sudartik hanya hanya bisa ikhlas ketika anak yang menurutnya sangat mandiri itu meninggalkannya, yang tertinggal hanya sejumlah piagam milik almarhumah.

Sudartik juga mengatakan, keinginan almarhumah yang belum terpenuhi antaranya mencetak buku, menyambung pendidikan Strata Dua serta menjadi tenaga pendidik untuk Aceh dalam ilmu agama setelah selesai di Al-azhar, jelas Sudartik.

“Orang nya cukup baik, tegar bisa mandiri, semua urusan sekolah itu dia yang urus sendiri,’’ ujar Sudartik selaku Ibu Almarhumah.

Sementara itu, abang kandung almarhumah, Bintoro, mengatakan, saat ini keluarga masih menunggu kabar kepulangan jenazah adiknya itu, ia juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga mahasiswa Aceh di Mesir yang sudah membantu kepulangan jenazah ke kampung halamannya. Kepada Pemerintah Aceh, Pemkab Nagan Raya serta para kepolisian yang sudah mengawal kepulangan adiknya menuju ke Aceh yang akan tiba Selasa siang esok.,

“Terima kasih banyak kepada mahasiswi dan mahasiswa keluarga besar Aceh di Mesir yang telah berjasa banyak membantu kemudian pihak KBRI, Pemerintah Aceh, Pemerintah Nagan Raya,” ujar Bintoro Saudara Kandung Laki-Laki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini