LHOKSEUMAWE- PUJATVACEH.COM– Tingginya harga Kedelai sejak dua Pekan Terakhir, berdampak pada para pengrajin Tempe di Kota Lhokseumawe, salah satunya di tempat produksi tempe Cap Mawar milik Jafar Usman, di Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti ini.

Kenaikan bahan baku Kedelai sangat berdampak pada produksi Tempe ditempat ini, jika biasanya pemilik mampu memproduksi hingga satu ton dalam sehari, saat ini hanya mampu memproduksi maksimal delapan ratus kilogram perharinya.

Jafar mengaku, sebelumnya harga bahan baku Kedelai diperoleh dengan harga Tujuh Ribu Enam Ratus Rupiah Perkilogram, namun saat Ini  mencapai Sembilan Ribu Tiga Ratus Rupiah Perkilogram, bahkan jika diambil langsung dari Agen atau Perantara, bisa mencapai Sepuluh Ribu Rupiah Perkilogram.

Akibat kenaikan bahan baku kedelai tersebut, dirinya terpaksa mengurangi para pekerja dari sebelumnya dua puluh orang, menjadi dua belas orang.  Jika kenaikan harga bahan baku ini berlanjut, maka dikhawatirkan usaha tempe miliknya ini terpaksa gulung tikar karena tidak sanggup menanggung biaya produksi.

Jafar, Pengusaha Tempe mengatakan, pihaknya tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga tersebut, namun diharapkan kepada Pemerintah agar dapat mensubsidi ataupun menurunkan harga bahan baku kedelai, agar para pengrajin tempe sepertinya dapat berjualan normal

“Kita mohonlah harga kacang bisa di subsidi, harus diturunkan sedikit, seperti biasa harga tujuh ribu, kami sudah bisa cari duit, bahkan kalau harga sepuluh ribu, kami bis tutup”, tuturnya.

Meskipun harga bahan baku kedelai mahal, namun harga tempe dipasaran tetap sama. Pengrajin tempe terpaksa mengurangi ukuran tempe dari sebelumnya dua ons menjadi satu koma lima ons, untuk meminimalkan kerugian akibat kenaikan bahan baku kedelai tersebut

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments