Jurnalis Aceh Di Tengah Baku Tembak, Ferry Efendi: Konflik Aceh Perang-Perangan Tapi Mati Betulan

Banda Aceh – Pujatv.com : Menjadi Jurnalis Di Wilayah Konflik Bersenjata Bukan Hanya Soal Mencari Berita, Tetapi Juga Mempertaruhkan Nyawa. Di Masa Konflik Bersenjata Aceh, Banyak Pewarta Terjun Langsung Ke Medan Berbahaya, Mereka Bekerja Di Tengah Dentuman Senjata, Demi Menyampaikan Kebenaran.
Di Masa Konflik Aceh, Suasana Mencekam Mewarnai Hampir Setiap Sudut Desa. Peliputan Di Wilayah Ini Menuntut Keberanian Dan Insting Tajam, Karena Batas Antara Mencari Berita Dan Menjadi Korban Begitu Tipis.
Berbekal Kamera Dan Buku Catatan, Para Jurnalis Harus Bergerak Lincah, Berpindah Dari Satu Titik Ke Titik Lain, Terkadang Di Tengah Baku Tembak. Identitas ‘Press’ Bukan Selalu Jaminan Keselamatan.
Selain Tembakan, Ancaman Datang Dari Pemeriksaan Mendadak, Intimidasi, Hingga Pembatasan Akses Informasi. Namun, Di Tengah Segala Keterbatasan, Semangat Untuk Memberitakan Kebenaran Tetap Menyala.

Ferry Efendi, Salah Seorang Mantan Kameramen Liputan 6 SCTV, Berdarah Melayu, Mulai Melakukan Peliputan Di Aceh Sejak Tahun 1994, Saat Masih Bertugas Di Rcti. Pada 1997 Hingga Desember 2004 Ia Bertugas Di SCTV Sebagai Kameramen Liputan 6.
Saat Konflik Bersenjata Antara Gerakan Aceh Merdeka Atau GAM, Dan Pemerintah RI Bergejolak Di Aceh, Pendi Sapaan Akrab Ferry Efendi, Tetap Harus Meliput Berbagai Kejadian Di Aceh, Sebagai Jurnalis Yang Bekerja Di Media Televisi Mengharuskan Pendi, Untuk Terjun Langsung Ke Lapangan Atau Lokasi Kejadian, Baik Itu Saat Baku Tembak Atau Peristiwa Lainnya Yang Terjadi Saat Itu.
Keluar Masuk Markas Gam Dan Tni Kerap Dilakukan Pendi, Namun Semua Itu Dibutuhkan Pendekatan, Ketelitian Dan Insting. Agar Profesi Yang Dijalankan Pendi Tetap Berjalan Lancar.
Pendi Bercerita, Banyak Kendala Yang Ia Hadapi Saat Meliput Konflik Di Aceh Dulu, Termasuk Kendala Saat Dirinya Ingin Mengirimkan Hasil Liputan Ke Kantor Medianya Yang Terletak Di Jakarta.
Jadwal Penerbangan Pesawat, Dan Waktu Yang Tersedia Membuat Dirinya Harus Benar Benar Jeli Mengatur Waktu, Agar Hasil Liputan Yang Ia Kirim Sampai Di Jakarta Dengan Selamat Dan Tepat Waktu.
Pendi Menyebutkan, Konflik Bersenjata Di Aceh Sangat Menakutkan, Baku Tembak Dan Perang Perangan Kerap Terjadi, Tetapi Kamatian Setiap Detik Mengintai.
Tak Berbeda Jauh Dengan Apa Yang Di Alami Oleh Hotli Simanjuntak, Pria Asal Sumatera Utara Berdarah Batak Ini, Saat Konflik Di Aceh Bergejolak, Dirinya Yang Saat Itu Berkerja Di Media Pemberitaan Luar Negeri, Diberi Pilihan Untuk Bertugas Di Aceh Atau Tidak Sebagai Fotografer.
Kecintaannya Terhadap Profesi Jurnalis Membuat Hotli Mengambil Keputusan, Dan Menerima Untuk Di Tugaskan Di Aceh Oleh Kantor Berita Internasional Afp Atau Agence France Presse, Yang Berkantor Pusat Di Prancis.
Saat Itu, Hotli Ber Gerilya Di Daerah Daerah Konflik Bersama Teman Sejawatnya, Intimidasi Di Lapangan Kerap Ia Dapatkan.

Hotli, Yang Kala Itu Masih Menggunakan Kamera Yang Belum Dilengkapi Dengan Teknologi Mempuni, Berhasil Mengabadikan Berbagai Momen Konflik Bersenjata. Meski Ada Beberapa Kendala, Tapi Itu Tidak Menjadi Penghalang Bagi Seorang Fotografer Itu.
Usai Melakukan Peliputan, Hotli Langsung Menuju Studio Foto Yang Pada Masa Itu Sangat Mudah Di Dapatkan Di Berbagai Daerah Di Aceh. Usai Mencetak Foto, Hotli Bergegas Menuju Warung Telekomunikasi Atau Wartel, Yang Kerap Menjadi Andalan Masyarakat Untuk Berkomunikasi Untuk Mengirimkan Hasil Karyanya Ke Redaksi Media.
Konflik Bersenjata Di Aceh Mungkin Telah Usai. Damai Mulai Bersemi Setelah Penandatanganan Mou Helsinki, Tahun 2005 Silam.
Namun, Di Balik Setiap Lembar Berita Tersimpan Kisah Mereka Yang Berdiri Di Garis Depan.
Jurnalis Yang Menembus Dentuman Peluru Demi Merekam Kebenaran.
Rekaman-Rekaman Itu Kini Menjadi Lebih Dari Sekadar Dokumentasi, Ia Adalah Arsip Berharga, Bukan Hanya Bagi Media Tempat Mereka Berkarya, Tetapi Juga Bagi Bangsa Ini. Untuk Mengingat Luka Dan Menjaga Nyala Penyembuhan Di Aceh.
Selamat Hari Damai Aceh Ke 20 Tahun.





