Meski Sekolah Tertimbun Lumpur di Pidie Jaya, Aktivitas Belajar Tetap Dilaksanakan

Pidie Jaya – Pujatv.com Beginilah suasana belajar mengajar pascabencana di Aceh. Siswa-siswi SMA Negeri 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Dua bulan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada 26 November 2025 lalu, hingga kini kondisi sekolah masih dipenuhi lumpur tebal yang menutupi hampir seluruh bangunan.
Lumpur setinggi dua hingga tiga meter tidak hanya menutup halaman sekolah, namun juga masuk ke ruang kelas, ruang guru, hingga kantor sekolah.

Akibatnya, seluruh fasilitas belajar ikut rusak dan tertimbun lumpur, mulai dari meja, kursi, buku pelajaran, komputer, hingga berbagai peralatan sekolah lainnya. Bahkan, sebagian siswa mengaku masih belum memiliki seragam sekolah sejak bencana terjadi.
Meski dalam keterbatasan, proses belajar mengajar tetap dilaksanakan. Sebagian siswa terpaksa belajar di bawah pohon, duduk di atas terpal, tepat di atas lumpur yang baru saja mengering.
Sebagian siswa lainnya menggunakan ruangan sekolah dengan kondisi bangunan rusak dan masih berlumpur. Meski tidak layak, aktivitas belajar tetap berjalan demi mengejar materi pelajaran.
Bahkan, ada pula siswa yang mengikuti kegiatan belajar di bawah tenda darurat yang disediakan pemerintah. Sementara itu, pembangunan ruang kelas darurat masih dalam proses pengerjaan di area depan sekolah.

Dalam kondisi seperti ini, siswa terpaksa menulis tanpa meja. Mereka menulis sambil berbaring atau menunduk di atas terpal dengan peralatan belajar seadanya.
Para siswa dan guru menaruh harapan besar agar sekolah mereka segera dibangun kembali. Terlebih dalam waktu dekat, para siswa akan menghadapi ujian akhir sekolah.
Mereka membutuhkan tempat belajar yang aman, nyaman, dan layak, agar semangat belajar tidak padam dan mimpi masa depan tidak tenggelam bersama lumpur bencana.
Dari Pidie Jaya, Provinsi Aceh, inilah potret ketabahan anak-anak negeri yang terus berjuang menuntut ilmu meski belajar di tengah keterbatasan pascabencana.





