Top Oen Kayee, Tradisi Sambut Ramadan dengan Ie Bu Peudah di Aceh Besar

Aceh Besar – Pujatv.com Suara tumbukan kayu bersahut-sahutan terdengar dari Desa Lam Neuheun, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Di halaman meunasah desa, para ibu duduk melingkar sambil mengayunkan alu ke dalam lesung kayu besar.
Tradisi ini dikenal dengan sebutan Top Oen Kayee atau menumbuk daun kering, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan menyambut bulan suci Ramadan.
Setiap menjelang Ramadan, warga Desa Lam Neuheun berkumpul untuk melaksanakan tradisi turun-temurun tersebut. Daun-daun pilihan yang dikumpulkan dari kebun dan hutan sekitar terlebih dahulu dijemur hingga benar-benar kering.
Tak kurang dari 44 jenis dedaunan digunakan dalam proses ini. Masing-masing memiliki aroma dan cita rasa khas yang nantinya berpadu dalam satu hidangan istimewa.

Setelah kering, dedaunan itu ditumbuk bersama bahan tambahan seperti beras, kunyit, serai, dan merica. Campuran tersebut menghasilkan sensasi pedas dan harum pada Ie Bu Peudah, bubur nasi pedas khas Aceh yang menjadi sajian favorit saat berbuka puasa.
Gerakan menumbuk dilakukan secara bergantian. Tawa dan cerita mengalir di sela-sela aktivitas. Tradisi ini bukan sekadar menyiapkan bahan makanan, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga.
Lembaran daun yang semula kasar perlahan berubah menjadi bubuk halus. Aroma rempah pun mulai tercium, menguar lembut di udara.
Salah seorang warga, Hamidah, mengatakan tradisi ini telah ada sejak zaman leluhur mereka. Menurutnya, Ie Bu Peudah bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang selalu dinanti setiap Ramadan tiba.
Setiap sore, petugas yang telah ditunjuk menyiapkan bubur tersebut untuk kemudian dibagikan kepada seluruh warga desa.

Ketua Tim Penggerak PKK Gampong Lam Neuheun, Aurelia, menyampaikan tradisi Top Oen Kayee akan terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Ia berharap kebersamaan warga dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Di Desa Lam Neuheun, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga warisan budaya. Lewat tumbukan daun kering di lesung meunasah, tradisi tetap hidup, menguatkan rasa kebersamaan, serta menghadirkan cita rasa khas Aceh dalam setiap suapan Ie Bu Peudah.





