Batu Bara dan Nikel Indonesia Kian Diminati di Tengah Gejolak Harga Energi Global

Jakarta – Pujatv.com Di tengah melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan ketidakstabilan energi global akibat konflik di Timur Tengah, komoditas batu bara dan nikel Indonesia semakin dilirik pasar dunia sebagai sumber energi dan bahan baku industri strategis. Batu bara masih menjadi tulang punggung energi primer nasional, terutama saat gejolak geopolitik memengaruhi harga energi global lainnya.
Indonesia sendiri tercatat sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 51 persen dari total produksi global. Selain itu, Indonesia juga menjadi salah satu produsen batu bara utama, dengan wilayah Kalimantan Timur sebagai sentra produksi terbesar. Kondisi ini menjadikan Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi dan industri global.

Pemerintah terus mendorong program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas. Di antaranya melalui pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi elpiji, serta pengembangan nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di Hambalang, Bogor, pada Rabu, 25 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, Bahlil juga memaparkan kondisi terkini harga komoditas energi dan mineral, khususnya batu bara dan nikel.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan terkait pengelolaan kedua komoditas tersebut. Namun demikian, pemerintah terus memantau perkembangan pasar global secara intensif guna menjaga stabilitas sektor energi nasional.
Sebelumnya, pemerintah juga berencana melakukan pengendalian produksi batu bara dan nikel pada 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus mencegah anjloknya harga komoditas di tingkat global.





