Ini Asal Muasal Sebaran Hantavirus, Indonesia Catat 23 Kasus Sejak 2024

Spanyol – Pujatv.com Pemerintah Spanyol mulai mengevakuasi penumpang kapal pesiar MV Hondius yang terdampak wabah hantavirus di perairan dekat Tenerife, pada 10 Mei 2026.
Evakuasi dilakukan dengan pengawalan ketat dan penerapan protokol kesehatan khusus setelah kapal tersebut berlabuh di wilayah perairan Spanyol.
Menteri Kesehatan Spanyol, Monika Karsia, menyatakan seluruh penumpang yang dievakuasi masih dalam kondisi tanpa gejala atau asimptomatik.
Dalam sejumlah rekaman video, para penumpang terlihat mengenakan masker medis dan dievakuasi secara bertahap menggunakan kapal kecil sebelum dibawa menuju bandara untuk dipulangkan ke negara masing-masing menggunakan pesawat charter.
Petugas berpakaian pelindung hazmat juga tampak membantu proses evakuasi dengan penyemprotan disinfektan sebelum para penumpang naik ke pesawat.
Sebanyak 14 warga Spanyol menjadi kelompok pertama yang dievakuasi, disusul penumpang asal Belanda, Jerman, Yunani, Inggris, hingga Amerika Serikat.
Pemerintah Spanyol turut menetapkan zona keamanan sejauh satu mil laut di sekitar kapal sehingga MV Hondius tidak diizinkan merapat langsung ke pelabuhan.
Rumah Sakit Candelaria di Tenerife juga menyiagakan fasilitas isolasi khusus dan tim dokter intensif guna mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus.
Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memuji respons cepat pemerintah Spanyol dan meminta masyarakat tidak panik meski kekhawatiran publik meningkat akibat pengalaman pandemi COVID-19 sebelumnya.

Wabah ini menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang MV Hondius dilaporkan meninggal dunia akibat hantavirus jenis Andes Virus.
Virus tersebut diketahui dapat menyerang paru-paru dan menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.
Sementara itu di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Kasus hantavirus di Indonesia dilaporkan tersebar di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Sulawesi Utara.
Kementerian Kesehatan menyebut mayoritas kasus di Indonesia didominasi tipe HFRS yang berasal dari Seoul Virus, dengan gejala seperti demam, nyeri badan, lemas, sakit kepala, hingga gangguan ginjal.
Penularan hantavirus umumnya terjadi akibat kontak dengan tikus atau paparan kotoran, urine, dan air liur hewan tersebut.

WHO menyatakan wabah hantavirus masih dapat dikendalikan melalui pengawasan ketat serta penerapan langkah kesehatan masyarakat yang tepat.





