Foto : Ilustrasi

“Aku gak mau di rawat di RSJ Bunda, aku ingin tetap sekolah, aku ingin bermain bersama kawan-kawanku” Suaraku menjerit, tubuhku meronta dan berusaha melawan dua orang bertubuh kekar yang menyeret ku paksa masuk ke IGD RSJ. Dokter dan para medis melakukan tindakan awal untuk ku, sesaat kemudian petugas laboratorium datang mengambil sampel darahku. Memastikan aku terkonfirmasi Covid-19 atau tidak, karena jika pasien terkonfirmasi Covid-19, dari ruang IGD akan langsung dirawat di ruang khusus, jika hasilnya negatif akan di rawat di ruang akut pria.

Aku terus berteriak dan meronta-ronta, aku melirik pada Bundaku, wanita ber usia empat puluh lima tahun,  diwajahnya masih melukiskan garis-garis kecantikan, Bunda wanita shalihah yang sering aku kasari. Aku tak segan-segan membentaknya dan juga terkadang menghancurkan barang-barang di rumah saat halusinasi pendengaran ku kambuh. Malam ini, Bunda dibantu petugas security di kompleks tempat kami tinggal kembali membawaku ke RSJ, ini untuk kesekian kalinya aku kesini. Aku menatap tajam ke mata Bunda, dengan pandangan marah, sudah seminggu aku tidak pulang ke rumah, aku keluyuran tanpa arah, karena merindukan Bunda aku pulang, tapi Bunda membawaku ke RSJ.

Aku lihat Bunda terdiam, matanya berkaca-kaca, harusnya aku yang menangis kenapa jadi Bunda yang menangis. Aku tidak gila, aku hanya tidak bisa mengontrol marah, dan aku juga tidak mampu mengontrol suara-suara bisikan yang terus menerus berbisik ditelingaku, perintah bisikan yang tidak bisa aku kontrol membawa aku keluyuran dengan ditemani sepeda motor Bunda yang aku ambil secara diam-diam. Aku bukan keluyuran sebenarnya, tepatnya aku sedang mencari Ayah, laki-laki dewasa yang terpaksa harus aku panggil Ayah, karena telah menikahi Bunda dan menyebabkan aku lahir ke dunia ini. Ayah, ntah dimana sekarang, sudah satu bulan aku tidak melihat Ayah di rumah, karena rasa sayangku pada Bunda, aku mencari keberadaan Ayah, aku ingin Ayah bertanggung jawab menafkahi aku anak satu-satunya, tidak membiarkan Bunda mencari nafkah sendiri untuk kehidupan kami. Ayah dimana kini, tolong aku, aku tidak mau di kurung di sini.

Pagi ini aku terbangun bukan karena suara lembut Bunda yang membangunkan ku, tapi suara lembut seorang perawat perempuan, membangunkan aku dan beberapa orang remaja lainnya yang umurnya belasan tahun se-usia denganku.

“Dek, ayo semuanya mandi dan ganti baju ya, baju sudah suster siapkan, setelah mandi, shalat shubuh dan jangan lupa berdoa biar cepat sehat dan bisa segera kembali ke rumah” Suara lembut perawat membangunkan kami.

Aku raih handuk, peralatan mandi dan seragam ganti yang sudah disiapkan oleh perawat, aku berlalu ke kamar mandi. Setelah sarapan dan minum obat, kami dikeluarkan dari ruangan, berkumpul di halaman depan RSJ untuk melakukan olahraga ringan, aku tak semangat menggerakkan tubuhku untuk senam pagi. Sementara teman-teman yang senasib denganku melakukan senam dengan benar mengikuti gerakan seorang perawat laki-laki yang berada di depan kami. Aku melihat ke arah belakang barisan, seorang perawat perempuan sedang duduk di bangku taman, matanya mengawasi kami pasien-pasiennya yang sedang berolah raga. Aku keluar dari barisan, menghampiri suster cantik yang menurut taksiranku berusia sekitar 25 tahun.

” Suster ” Sapaku padanya

” Iya, ada apa Fahmi? ”

“Suster Mila, boleh saya duduk di sini dengan Suster? ” Tanyaku pada suster Mila, setelah melirik papan nama di seragamnya, Ns.Mila Setia, S.Kep aku eja namanya, dan meminta izin untuk duduk di bangku taman bersama suster Mila.

Suster Mila menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaanku, mata suster Mila tak lepas dari mengawasi pasien lainnya yang sedang olahraga.

” Fahmi, kenapa kamu tidak ikutan senam dengan kawan-kawan? ”

” Saya tidak enak badan, suster ” Jawabku datar

” Apa Fahmi merasa meriang atau ada hal lainnya? ” Tanya suster Mila sambil menyentuh dahiku dengan punggung tangannya, memastikan suhu tubuhku normal atau tidak. Tentu saja suster Mila tidak merasakan apa-apa, karena yang tidak enak bukan anggota tubuhku, tapi pikiranku.

” Tidak meriang suster, sebenarnya bukan tidak enak badan, tapi tidak enak perasaan” Jawabku kemudian

” Apa yang Fahmi rasakan? ”

Lembut suara suster Mila sambil menatap mataku. Aku menunduk, aku bingung, aku gelisah, ada berjuta cerita dibenakku, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana, ingin ku ceritakan pada suster Mila tentang cintaku pada Bunda, tentang sayang ku pada Bunda, tentang benciku pada Ayah yang belum ku tahu dimana keberadaannya kini. Butiran bening disudut mataku, tak mampu ku sembunyikan, membentuk kristal putih dan menetes pelan dipipiku.

” Fahmi.. Apa yang membuat Fahmi menangis? ” Pertanyaan suster Mila mengejutkan ku, tangan ku spontan menghapus kristal bening yang sudah terlanjur mengalir dipipiku.

“Saya… Saya…. ” Suaraku terbata, suster Mila menunggu dengan sabar, menganggukkan kepalanya memberikan sinyal padaku untuk meneruskan ceritaku.

“Saya… Ingin pulang suster, saya kangen sama Bunda, saya tidak gila suster, saya tidak mau disini, saya…. ” Suaraku terputus, aku terisak pelan, suster Mila membiarkan aku dengan tangisanku, aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan tangisan dan air mataku, aku malu jika ada orang lain lagi selain suster Mila yang melihat aku menangis.

Setelah suara tangisan ku mereda, dan air mataku berhenti menetes, aku menatap suster Mila yang dengan sabar masih menemaniku memberi ruang waktu untuk ku, agar aku nyaman menumpahkan semua isi hatiku.

“Suster, saya kapan boleh pulang..? ” Tanyaku kemudian.

“Nanti akan suster bantu tanya pada dokter ya Fahmi, jika menurut dokter Fahmi sudah boleh pulang, kami akan memberitahukan pada keluarga Fahmi, untuk menjemput Fahmi” Suster Mila menjelaskan padaku.

“Tapi suster, saya tidak gila, saya tidak mau disini, suster bantu saya, teleponkan Bunda saya, saya rindu Bunda ”

“Kamu hafal nomor handphone Bunda kamu, Fahmi..? ”

Aku melafazkan deretan angka kontak handphone Bunda, yang sudah aku hafal di luar kepala. Suster Mila mencoba menghubungi Bunda, mengaktifkan mode loudspeaker dari smartphonenya. Bunyi tunggu panggilan masuk terdengar dari seberang sana. Ah, dimana Bunda, kenapa gak menjawab panggilan dari handphonenya suster Mila.

“Assalamu’alaikum” tiba-tiba suara Bunda muncul dari handphone suster Mila, suara yang sangat aku rindukan.

“Wa’alaikum salam Buk, ini saya dengan suster Mila, perawat ruang anak di RSJ PMI, ini benar dengan orang tuanya Fahmi, Buk..? ” Suster Mila memastikan kebenaran nomor HP Bunda.

“Benar suster, saya Buk Yati, Bunda nya Fahmi, ada apa dengan Fahmi suster, Fahmi baik baik saja kan suster..? ” Suara Bunda mengkhawatirkan diriku, aku tahu Bunda sangat sayang padaku.

“Fahmi baik baik saja Buk, hanya saja Fahmi izin ingin bicara dengan Ibu” Suster Mila menjelaskan kondisi ku

“Assalamu’alaikum Bunda, Fahmi kangen Bunda, Fahmi kangen Ayah, apa Ayah sudah kembali ke rumah Bunda, apa Ayah dan Bunda bisa jemput Fahmi, Fahmi gak mau di sini Bunda, Fahmi ingin pulang, Fahmi janji gak akan keluyuran lagi, gak akan marah-marah lagi, rajin shalat, rajin ngaji, rajin sekolah, jemput Fahmi segera ya Bunda” Aku bicara terus tanpa henti, meluapkan semua rindu yang menyesakkan dadaku, menyampaikan gelisahku, hanya Bunda yang mengerti aku.

“Nak… ” Lembut suara Bunda memanggilku

“Iya Bunda ” Balasku

“Bunda juga kangen sama Fahmi, Fahmi yang sabar ya nak, Insya Allah jika menurut dokter, Fahmi sudah boleh pulang, akan segera Bunda jemput” Kata Bunda di seberang sana.

“Sudah dulu ya Nak, sampaikan salam Bunda untuk suster yang telah meminjamkan HP ini, Bunda sedang sibuk, lagi banyak pembeli di warung”

“Yang sabar ya Nak, Assalamu’alaikum”

Suara Bunda mengakhiri panggilan

“Wa alaikum salam” Suaraku dan suara suster Mila berbarengan menjawab salam dari Bunda. Rasa rindu ku untuk Bunda belum penuh terobati, rasa penasaran akan keberadaan Ayah juga belum terjawab kan.

“Suster Mila” Aku kembali memanggil suster cantik yang sedang bersamaku sekarang

“Iya, Fahmi” Jawab Suster Mila singkat

“Apakah saya bisa kembali sembuh? ”

“Tentu saja bisa, asalkan Fahmi punya keinginan untuk sembuh” Jawab suster Mila.

“Yang menjadikan Fahmi sakit adalah pikiran Fahmi sendiri, coba mulai sekarang ubah pola fikir Fahmi, sebelum bertindak, apapun itu… Pikirkan baik buruknya, suster yakin Fahmi bisa, Fahmi juga harus yakin bisa mengubah hidup Fahmi menjadi lebih baik lagi ”

Penjelasan suster Mila, memacu semangat ku untuk sehat, sampai nanti dinyatakan terbebas dari gangguan alam pikiran yang selama ini mengganggu ku. Setelah berbincang-bincang dengan suster Mila, aku merasa seperti terlahir kembali, perkataan suster Mila menyadarkan aku, setiap masalah yang hadir dalam kehidupan ini jika kita berserah pada Allah yang Maha Kuasa, semuanya akan terasa ringan, aku mencoba mengikhlaskan semuanya, aku harus ridha Allah pilih jadi anak dari seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab, aku yang  harus istiqamah berdoa khusus untuk Ayah, agar Allah melembutkan hati Ayah, agar Allah membawa kembali Ayah yang sering berpetualang berlabuh dalam kehangatan keluarga. Aku harus kuat menghadapi semuanya, menghadapi ejekan dengan senyuman bukan dengan amarah, ternyata kemampuan kita mengontrol marah membuat hati kita damai. Ah.. Betapa banyak waktuku terbuang percuma selama ini, lupa pada Allah sang Pencipta, sehingga aku kehilangan petunjuk-Nya.

Di keheningan malam, aku basahkan anggota wudhuk ku, dengan memakai selimut sebagai pengganti sajadah, aku tunaikan dua rakaat shalat malamku, berbagai doa aku panjatkan, semoga Allah mendengar semua doaku, mengabulkan semua harapan dan impianku. Jiwaku terasa damai, aku merasakan kenikmatan doa yang sesungguhnya, saat semua beban kehidupan ini aku pasrahkan pada Allah, aku seperti melayang ringan di udara, jauh lebih damai dari obat-obat terlarang yang pernah menemaniku. Kenapa baru sekarang aku rasakan kedamaian ini, semoga Allah mengampuni semua dosa dan khilaf ku. Tak lupa juga aku mendoakan agar Allah bukakan hati Ayah untuk kembali pulang ke rumah, untuk mengakhiri pertualangannya dan menetap hanya di hati Bunda. Ku titipkan rindu untuk sosok Ayah dalam do’aku di kegelapan malam, sambil melukiskan khayalan dalam pikiran ku, berharap Ayah akan datang menjemput ku, membawaku kembali dalam kehidupan yang normal seperti layaknya kehidupan remaja lainnya.

Dan pada akhirnya doaku terjawab, Ayah dan Bunda menjemput ku pulang, Dokter telah menghubungi orangtuaku, mengabari kondisi ku yang sudah stabil kembali. Aku tak bisa menjabarkan dengan kata-kata, kehangatan pelukan Ayah yang telah lama hilang dari pikiranku, aku eratkan kembali pelukannya, sambil mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga dalam bathinku. Aku melangkah meninggalkan ruang rawatan anak dan remaja di RSJ, sambil membatin agar tidak pernah tercatat lagi sebagai pasien di RSJ. Aku berdiri sejenak, berbalik badan melihat ruangan tempat aku pernah di rawat. Pandanganku terhenti pada sosok berseragam putih di balik Nurse Station, Suster Mila tersenyum ke arah ku, melambaikan tangannya, suaranya yang tegas mengantarkan langkahku. “Tetap semangat Fahmi, ikhlas dan istiqamah ya, usiamu masih muda jalanmu masih panjang”

Aku tersenyum membalas lambaian tangan suster Mila, melangkah pasti meninggalkan RSJ dan bertekad untuk sembuh agar tak akan kembali lagi ke sini.

 

Penulis : Ismuziani Ita

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments