Foto : Pengrajin Atap Daun Rumbia.

ACEH TIMUR – PUJATVACEH.COM – Perajin atap daun rumbia di Kabupaten Aceh Timur terus bertahan meski sepi pesanan akibat dampak covid-19. Hingga terpaksa menjualnya dengan harga murah demi bertahan hidup.

Kisah Pengrajin Atap Rumbia di Aceh Timur Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Perajin atap daun rumbia di Kabupaten Aceh Timur terus bertahan meski sepi pesanan akibat dampak covid-19, hingga terpaksa menjualnya dengan harga murah demi bertahan hidup.

Beginilah tampak tempat perajin anyaman atap tradisional daun rumbia milik warga di Desa Bereusa Seberang/ Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur.

Di bawah gubuk yang beratap rumbia dan beralas tanah inilah Romalina berusia 50 tahun salah satu perajin atap rumbia, berlindung dari sinar matahari untuk memproduksi atap secara tradisional. Dirinya mengaku dalam satu hari berhasil memproduksi atap rumbia sebanyak 20 hingga 25 lembar.

Menurutnya, pekerjaan ini telah dijalaninya selama 25 tahun bersama sang suami, Hasyem yang saat ini telah berusia 57 tahun.

Wanita paruh baya yang akrab disapa kak ros ini mengaku menjadi perajin atap tradisional yang telah menjadi mata pencariannya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan ia bersama suaminya itu mampu memproduksi atap sebanyak 50 lembar perharinya.

Namun, selama masa pandemi covid-19, usaha Kak Ros bersama suaminya terpuruk dan anjlok hingga mencapai 50%. Biasanya atap rumbia ini dapat terjual hingga 500 lembar perbulan, kini hanya laku 100 hingga 200 lembar perbulannya.

Hal itu disebabkan karena sepinya para pembeli, bahkan sebelumnya harga per-keping atap rumbia tersebut sekitar lima ribu rupiah, kini mereka terpaksa menjualnya dengan harga 2.500 hingga 3.000 rupiah perkepingnya.

Romanila mengatakan, bahwa ia tidak ada pekerjaan lain selain membuat atap rumbia. Ia tiap hari hanya bisa membuat 20 lembar, dimana dimasa pandemi lembar atap rumbia yang terjual menurun, bahkan harganya yang jatuh hingga dua ribu lima ratus rupiah, dari yang sebelumnya lima ribu rupiah per lembar.

“saya perkerjaan sama suami ya hanya ini, tidak ada pekerjaan lain, pun sekarang harganya jauh lebih murah, belum lagi yang mau beli itu sedikit sekarang,” papar Romanila, Pengrajin atap rumbia.

Ia juga menambahkan bahwa bahan baku daun rumbia itu di dapatkan dari warga lain yang nantinya hasil jual atap tersebut di bagi dengan pemilik bahan baku. Saat ini kak ros bersama suaminya hanya pasrah dan terus bekerja sebagai perajin atap tradisional, demi bertahan hidup di tegah pandemi, meski banyak atap rumbia yang telah diproduksinya menumpuk hingga kekeringan sebab dibakar oleh terik matahari karena tidak terjual.

Romanila hanya dapat berharap pandemi covid-19 cepat berlalu hingga usaha tradisionalnya kembali normal demi kelangsungan hidup mereka.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments