Banda Aceh – Pujatvaceh.com – Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) Aceh, Aliman melakukan uji coba terhadap kapal penangkap ikan yang bahan baku utamanya terbuat dari serat fiber.
Serat fiber digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan kapal penangkap ikan nelayan, merupakan solusi tepat bagi nelayan dalam memenuhi sarana tangkapan. mengingat saat ini bahan baku berupa kayu yang sering digunakan untuk pembuatan kapal sulit didapatkan.
Kapal ikan berbahan fiber dianggap mampu menjadi solusi untuk pembuatan kapal, karena kapal atau boat bagi nelayan harus terus diproduksi untuk meningkatkan hasil tangkapan nelayan.
Selain lebih efektif dan efesien, kestabilan dan kecepatan kapal berbahan fiber tidak kalah dengan kapal yang diproduksi menggunakan bahan kayu. Hal ini disampaikan Aliman usai melakukan uji coba dengan menaiki kapal fiber di pesisir pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.
Sebelumnya DKP Aceh telah berhasil merampungkan satu unit kapal berbahan fiber yang memiliki berat lima gross tonnage (5 gt). Namun untuk selanjutnya, DKP Aceh tidak menutup kemungkinan akan memproduksi kapal penangkap ikan lainnya yang lebih besar dengan bahan dasar serat fiber.
“Saat ini kapal yang berbahan baku kayu sekarang semakin sulit disebabkan karena semakin sulit didapatkan. Karena semakin sulit didapatkan kayu tersebut maka kami mencoba mencari cara dan memanfaatkan teknologi yang ada maka kami kembangkan kapal yang berbahan baku fiber. Meskipun kapal ini berbahan baku fiber, kami berupaya dalam pembuatannya itu bentuknya sama seperti bentuk kapal yang berbahan kayu. Setelah beberapa kali pengujian kapal fiber ini lebih baik” Ujar Aliman, Kadis DKP Aceh.
Meski pada awal pembuatan kapal berbahan baku serat fiber ini membutuhkan biaya produksi yang lumayan tinggi, namun dalam hal perawatan kapal fiber ini tidaklah sulit. Kapal juga bisa bertahan hingga sepuluh tahun ke depan sejak usai dirampungkan.
Konsultan produksi kapal fiber yang juga merupakan Dosen Teknik Mesin di Universitas Abulyatama Aceh, Yusrizal mengatakan, terkait bahan baku memang agak sedikit mahal, karena harganya mengikuti harga dolar.
“Mungkin dari sisi harga agak lebih mahal daripada kayu, akan tetapi dalam pelaksanaannya kedepannya kapal ini nyaris tidak memerlukan perawatan berbeda dengan kapal kayu yang memerlukan perawatan satu bulan sekali. Sedangkan kapal fiber ini diprediksi bisa sampai 10 tahun tidak memerlukan perawatan” Kata Yusrizal, Konsultan/Dosen Teknik Mesin Unaya Aceh.
Mengingat sulitnya memperoleh kayu sebagai bahan dasar utama dalam perakitan kapal penangkap ikan, Dkp Aceh akan terus fokus dan mengembangkan produksi kapal berbahan serat fiber ini, dan nantinya diharapkan industri kapal fiber akan tumbuh di Aceh.






