Cerita Jurnalis Aceh Tengah, Rumah Hancur Diterjang Banjir dan Longsor

Aceh Tengah – Pujatv.com : Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.
Khususnya di Desa Mandale, Kecamatan Kebayakan, seorang jurnalis yang selama ini meliput bencana justru menjadi salah satu korban. Rumah terendam, harta benda hilang, peralatan kerja lenyap. Namun semangat dan idealisme jurnalistik tak pernah padam.
Pagi Rabu, dua puluh enam November 2025, menjadi hari paling mencekam. Hujan deras yang terus mengguyur selama lebih dari sepekan membuat air sungai meluap dan menghantam permukiman warga.
Rumah Jalimun, seorang jurnalis lokal Aceh Tengah yang berada di lereng bukit, tiba-tiba terendam banjir bandang setinggi tiga meter. Seluruh warga Desa Mandale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, terpaksa mengungsi dengan harapan kondisi membaik keesokan harinya.

Namun harapan itu sirna. Bukan surut, bencana yang lebih besar justru terjadi. Banjir bandang disertai longsor menerjang permukiman warga.
Sebanyak empat puluh empat rumah hancur rata dengan tanah. Bebatuan besar, kayu gelondongan, dan material longsor terbentur serta menimpa rumah-rumah warga.
Sementara rumah Jalimun tak luput dari terjangan banjir. Dinding runtuh, seluruh isi rumah hanyut dan tertimbun lumpur serta bebatuan.
Bagi Jalimun, bencana ini bukan sekadar kehilangan tempat tinggal, namun juga kehilangan sumber penghidupan. Kamera, laptop, dan arsip liputan hilang tak bersisa.
Hingga saat ini, Jalimun bersama istri dan anak-anaknya masih bertahan di pos pengungsian dengan keterbatasan logistik dan perlengkapan.

Sebagai tulang punggung keluarga, Jalimun harus bangkit di tengah trauma dan ketidakpastian masa depan.
Apalagi ketersediaan logistik masih sangat minim. Bahkan bantuan air bersih pun belum ada, sehingga ia dan warga sekitar terpaksa melakukan instalasi air dari pegunungan.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan, BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan penanganan darurat. Sejumlah akses jalan masih terputus akibat longsor, sehingga menyulitkan distribusi bantuan logistik ke wilayah terdampak.
Kisah Jalimun menjadi potret nyata bahwa bencana tak memandang profesi. Di saat kamera menyala, jurnalis menyampaikan fakta. Namun saat bencana datang, mereka juga bisa menjadi korban.
Pemerintah dan berbagai pihak diharapkan hadir agar para korban, termasuk jurnalis terdampak, dapat bangkit dan melanjutkan hidup.





