Foto : Para nelayan pukat trawl mini.

LHOKSEUMAWE – PUJATVACEH.COM – Sebanyak 86 nelayan pukat trawl mini dari 43 boat mesin jenis diesel Dongfeng, ataupun Yandong milik nelayan di  Gampong Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, terpaksa ditambat di dermaga tempat pendaratan ikan gampong setempat  karena dilarang beroperasi.

Hampir selama 3 minggu tidak melaut dan tidak punya penghasilan berdampak langsung pada kehidupan keluarga para nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sektor kelautan ini, apalagi saat ini pandemi belum usai, tentu tekanan ekonomi keluarga para nelayan semakin terasa berat.

Mirisnya lagi, beberapa anak  nelayan terpaksa putus pendidikan di dayah atau pesantren karena ketiadaan biaya hidup di beberapa pesantren yang ada di Aceh.

Keluhan para nelayan kecil ini mereka sampaikan kepada Wakil Ketua Dprk Kota Lhokseumawe T Sofianus , dan juga kepada Kepala Dinas  Kelautan, Perikanan , Pertanian dan Pangan Kota Lhokseumawe, Rizal , yang turun ke lokasi untuk melihat secara langsung jenis boat dan alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan,  dan juga mendengar harapan mereka kepada pemerintah.

Salah seorang warga, molina, terpaksa memulangkan anaknya  dari pesantren karena suaminya selama ini sudah tidak mampu mengirimkan uang kepada dua anak mereka yang sedang menuntut ilmu di Dayah Abu Paloh Gadeng Aceh Utara.

“saya terpaksa menyuruh anak untuk pulang kerumah, karena tidak ada lagi biaya selama dia mengaji, karena suami saya sudah 3 minggu tidak melaut”, kata Molina, istri salah seorang nelayan di Pusong Kota Lhokseumawe.

Sementara itu, salah seorang nelayan,  M Jamil Kaoy mengungkapkan,  bahwa akibat berhentinya aktivitas melaut nelayan, imbasnya dirasakan juga oleh warga karena harga ikan mengalami kenaikan, bahkan dirinya juga terpaksa menjemput anaknya 3 orang yang menjadi santri di dayah tradisional.

“Semoga pemerintah dapat mengizinkan kami melaut walaupun dengan batasan tertentu seperti nelayan lainnya di kabupaten lain yang masih bisa melaut dengan jenis boat dan pukat yang sama seperti mereka” harapnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian  Dan Pangan Kota Lhokseumawe Rizal merasa prihatin dengan kehidupan nelayan pasca dilarang melaut, dirinya akan menyampaikan hal ini kepada Walikota Lhokseumawe dan akan melakukan musyawarah dengan Forkopimda  agar persoalan ini dicarikan solusi secepatnya.

“Nanti kita musyawarahkan bersama Forkopimda, untuk mencari solusi agar para nelayan dapat melaut kembali” kata Rizal.

Wakil Ketua DPRK Kota Lhokseumawe T. Sofianus mengapresiasi sikap nelayan yang tetap patuh pada hukum dan mengikuti larangan melaut selama ini, akan tetapi kondisi warga tidak  bisa menghidupi keluarganya juga tidak bisa dibiarkan terlalu lama  , apalagi di tengah wabah pandemi seperti saat  ini, dirinya  bersama  dengan pemerintah kota lhokseumawe dan instansi terkait akan mencari berbagai solusi alternatif agar para nelayan bisa kembali produktif tanpa melanggar aturan.

Karna sebab itu, kami turun langsung ke lapangan agar dapat melihat langsung permasalahan yang terjadi , dan kami akan mencari solusi dan musyawarah bersama forkopimda sehingga nantinya mendapat langkah konkret” pungkasnya.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments