Harga Tak Seimbang, Cabai Anjlok dan Pupuk Mahal Bikin Petani Merugi di Bener Meriah

Bener Meriah – Pujatv.com Menjelang bulan suci Ramadan dan pascabencana banjir serta tanah longsor, nasib kurang beruntung kini dialami para petani cabai di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Setelah sempat menikmati harga tinggi pada akhir tahun lalu, para petani kini harus mengelus dada karena harga jual cabai anjlok drastis. Penurunan ini diduga akibat stok yang melimpah di pasaran serta kondisi cuaca yang memengaruhi kualitas hasil panen.
Di tingkat produsen, harga cabai merah rata-rata berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Namun, di beberapa sentra produksi lokal, harga jual bisa jauh lebih rendah, bahkan menyentuh Rp30.000 per kilogram.

Harga tersebut dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung petani. Harga pupuk nonsubsidi masih sangat mahal, ditambah lagi sulitnya mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah.
Salah seorang petani muda di Kecamatan Timang Gajah mengatakan harga cabai merah kali ini mengalami penurunan yang cukup tajam, sementara harga pupuk justru tinggi. Ia menyebutkan harga pupuk mencapai Rp800.000 hingga Rp900.000 per sak.
Ia menambahkan, saat ini petani terpaksa menggunakan pupuk dengan harga lebih murah, meskipun kualitasnya tidak sebaik pupuk yang biasa digunakan. Hal tersebut dilakukan karena harga pupuk utama yang biasa dipakai petani mengalami lonjakan.
Meski harga di tingkat petani rendah, harga di tingkat konsumen masih terpantau berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Disparitas harga yang lebar ini membuat petani berharap pemerintah segera melakukan langkah stabilisasi, baik melalui pengendalian harga maupun kemudahan akses pupuk murah.

Hingga kini, banyak petani terpaksa memanen cabai apa adanya tanpa perawatan maksimal guna menekan kerugian yang lebih besar.
Para petani pun berharap adanya regulasi yang dapat menjamin harga acuan pembelian di tingkat produsen tetap layak agar mereka tidak terus-menerus menjadi pihak yang paling dirugikan dalam rantai distribusi pangan.





