Kolaborasi Organisasi di Aceh Timur Hidupkan Dakwah Melalui Warung Kopi

Aceh Timur – Pujatv.com Forum Gabungan Dakwah (FGD) Peureulak Raya menggagas konsep dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat melalui kegiatan pengajian bertajuk “Beut Sambil Ngopi”. Kegiatan perdana ini digelar di Warkop Oen Kupi, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.
Pengajian tersebut mendapat dukungan dari berbagai organisasi dan elemen masyarakat, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Program ini direncanakan menjadi agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan pada pekan ketiga.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Timur, Tgk. Thahir MD atau yang akrab disapa Waled Thahir.

Dalam sambutannya, Waled Thahir mengapresiasi inisiatif penyelenggara yang memanfaatkan warung kopi sebagai media dakwah. Menurutnya, warung kopi selama ini menjadi ruang berkumpul masyarakat dari berbagai kalangan sehingga memiliki potensi besar sebagai tempat penyebaran nilai-nilai keislaman.
Ia menilai, selain menjadi tempat bersantai dan berdiskusi, warung kopi juga dapat difungsikan sebagai wadah menimba ilmu agama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Aceh Timur, Tgk. Muchtar Ibrahim atau yang lebih dikenal sebagai Abati Aramiyah.

Dalam tausiahnya, Abati Aramiyah mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan semangat mempelajari ajaran Islam serta memanfaatkan setiap kesempatan menghadiri majelis ilmu sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ketua DPC Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Aceh Timur, Rizalihadi, menyatakan dukungan penuh terhadap program Forum Gabungan Dakwah Peureulak Raya. Ia juga mendorong seluruh ketua DPK APDESI di 24 kecamatan se-Aceh Timur untuk menginisiasi kegiatan dakwah serupa di wilayah masing-masing.
Melalui program “Beut Sambil Ngopi”, para penyelenggara berharap dakwah dapat menjangkau masyarakat dengan cara yang lebih terbuka, santai, dan mudah diterima, sekaligus menjadikan warung kopi sebagai ruang edukasi keagamaan yang produktif.





