Akademisi Unimal latih strategi percepatan penurunan stunting di Blang Pulo Lhokseumawe

Lhokseumawe – Pujatv.com : Akademisi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe mengadakan pelatihan dalam program pengabdian masyarakat dari PNBP tahun 2025 dengan tema sinergitas multisektoral untuk percepatan penurunan stunting dan kawasan ramah lingkungan sebagai upaya preventif di Aula desa Blang pulo kecamatan muara satu kota Lhokseumawe pada 11 November 2025.
Sebanyak tiga puluh peserta yang terdiri dari para relawan KPM , Ahli Gizi , kader Posyandu dan petugas BKKBN , serta para tokoh perempuan mendapatkan pelatihan bagaimana memahami konsep penurunan stunting yang dirancang oleh para akademisi salah satu universitas unggul di Indonesia ini.

Prof. Dr. A Hadi Arifin, SE., M.Si mantan Rektor Unimal tampil dengan Judul Materi: “Kerangka Konsep Percepatan Penurunan Stunting di Desa Blang Pulo Kota Lhokseumawe”
Kemudian dilanjutkan dengan Dr. Faisal Matriadi, SE., M.Si dengan Judul Materi: “Perkuat Kolaborasi dan Sinergitas untuk Zero New Stunting Menuju Generasi yang Semakin Gemilang” .
Tidak Hanya para pakar dari Unimal yang memberikan materi, kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Lhokseumawe, Salahuddin S. ST. MSM juga ikut memberikan materi Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting Dan Ketahanan Pangan”
Selain itu juga memberikan pemahaman bagaimana akibat jika kekurangan nutrisi bagi tubuh anak dan juga perkembangan fisik dan otak anak, semua dipaparkan dalam pelatihan tersebut.
Perlu diketahui bahwa Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan adanya malnutrisi asupan zat gizi kronis dan atau penyakit infeksi kronis maupun berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD) (WHO, 2010).
Persentase stunting (sangat pendek dan pendek) dan wasting (gizi buruk dan gizi kurang) pada balita usia 0-59 bulan sejak 2016 – 2021 cenderung mengalami penurunan.
Hal ini tentu menjadi sebuah langkah yang baik dalam upaya mencapai target RPJMN 2020-2024 untuk penurunan angka stunting dan wasting.
Di Kota Lhokseumawe hingga tahun 2024 ini terdapat sebanyak 797 anak yang masih tercatat dalam program pengentasan angka Stunting. Angka itu sendiri mengalami penurunan bila dibandingkan dengan catatan tahun 2022 yang mencapai 1022 balita Stunting berdasarkan data dari Bappeda Kota Lhokseumawe, tahun 2023.
Kemudian Berdasarkan data sebaran kasus di masing-masing puskesmas, jumlah tertinggi ada di puskesmas Muara Satu dengan jumlah Balita Stunting sebanyak 136 kasus dan terendah ada di puskesmas Blang Mangat sebanyak 78 kasus hal ini tercatat di DP3AP2KB Kota Lhokseumawe tahun 2024.

Kronisnya masalah gizi yang terjadi di masyarakat, selain penyebab mendasar kurangnya pengetahuan yang cukup dominan, besar kemungkinan juga disebabkan oleh pelayanan kesehatan yang tidak merata, dan juga tidak berkelanjutan. Selain itu faktor sosial ekonomi, tidak ada perawatan antenatal di fasilitas kesehatan, dan partisipasi ibu dalam keputusan tentang makanan apa yang dimasak di rumah tangga. Berbagai upaya intervensi spesifik dan langkah konkrit dalam penurunan stunting sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe.
Masalah stunting bukanlah isu yang sederhana, sehingga penanganannya memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak. Penanganan stunting yang berdampak jangka panjang terhadap produktivitas tidak hanya tanggung jawab pemerintah pusat tetapi juga melibatkan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kota Lhokseumawe.
Dalam konteks penanggulangan dan percepatan penurunan stunting di Indonesia, termasuk Kota Lhokseumawe, peran multi-stakeholder dalam penanganan masalah ini sangatlah menentukan (Mariyudi et al., 2024; Sayuti et al., 2019).
Upaya penurunan stunting dilakukan secara konvergensi, dengan melibatkan lintas sektor dan lintas program. Upaya yang dilakukan dalam bentuk intervensi spesifik dan sensitif, intervensi sensitif mengambil peran sebesar 70% sedangkan intervensi spesifik mengambil peran sebesar 30%. Permasalahan yang dihadapi dalam menurunkan prevalensi stunting adalah: 1) Orang tua balita tidak merasa anaknya bermasalah gizi; 2) Kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Pemantauan pertumbuhan mandiri di rumah belum bisa dilakukan oleh semua ibu balita karena ibu balita tidak memiliki timbangan dan alat ukur panjang/tinggi badan. Pemantauan pertumbuhan mandiri merupakan pemantauan pertumbuhan yang dilaksanakan secara mandiri oleh ibu atau pengasuh balita di rumah, kemudian data BB dan/atau TB disetorkan/ dilaporkan kepada kader. Hal ini dilaksanakan untuk mengantisipasi balita yang tidak dapat hadir ke posyandu ketika jadwal posyandu agar tetap tercatat berat dan tinggi badannya.
Solusi dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Desa Blang Pulo dan menjadi kegiatan yang mampu memberikan manfaat yang baik dan peningkatan keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi, serta menjadi salah satu kegiatan yang membantu pemerintah dalam upaya Percepatan Penurunan Stunting (PPS) yang terus di lakukan dari hulu ke hilir. Membangun kerjasama kemitraan dan sinergitas multi stakeholder beserta seluruh elemen masyarakat, terutama dengan mengikutsertakan tokoh masyarakat dan ulama di dalamnya merupakan kunci sukses pelaksanaan program.
Salah seorang peserta nilayati kader KPM atau kader pembangunan manusia di desa tersebut mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka para kader, bahkan keterlibatan perusahaan dilingkungan Desa juga mendukung program peningkatan Gizi yang dijadikan prioritas oleh pemerintah saat ini.
Sementara itu Dr. Mariyudi SE. MM selaku ketua pelaksana program pengabdian masyarakat universitas Malikussaleh Lhokseumawe berharap pelatihan ini bisa meningkatkan kemampuan para kader untuk lebih giat lagi menurunkan angka stunting di Desa, keterlibatan seluruh pihak juga sangat diharapkan untuk mendukung program pemerintah ini.**





