
ACEH BARAT- PUJATVACEH.COM- Tradisi ibadah suluk ini, mudah ditemui di setiap dayah dan pesantren yang ada di kabupaten Aceh Barat. Asal usul suluk ini awalnya dibawa oleh pengikut jamaah Tarekat Naqsabandiyah, yang disebarkan oleh Abuya Syeh Haji Muhammad Muda Wali Al-Khalidi.
Warga Aceh Barat melakukan ibadah suluk di pesantren serambi mekkah, desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat saat bulan Ramadhan tiba.
Dalam prosesinya, para jamaah diajarkan bertaubat, tafakur, berdoa dan berzikir, dengan delapan tingkatan selama kegiatan suluk itu berlangsung. Mereka menutup seluruh tubuh menggunakan kain dan sorban, para jamaah ini terlihat sangat khusuk berzikir dan larut dalam doa, memohon keridhaan Allah SWT.
Selama kegiatan suluk para jamaah juga dilarang untuk mengkonsumsi makanan berdarah, seperti daging dan ikan serta yang mengandung unsur kimiawi. Karena makanan tersebut diyakini dapat menghalangi perjalanan doa dan zikir dengan cara suluk.
Saat menjalankan tradisi ibadah suluk ini, para jamaah tidak diperbolehkan untuk pulang atau keluar dari perkarangan pondok pesatren. Tujuannya agar mereka tak terpengaruh oleh duniawi yang bisa menganggu ibadah suluk.
Tahukah Anda, kegiatan suluk ini rutin dilakukan sebanyak tiga waktu dalam setahun, seperti di Bulan Ramadhan selama 40 hari, Bulan Maulid 20 hari, dan pada Bulan Haji sebanyak 10 hari.
Selain para santri dayah, biasanya kegiatan suluk ini juga diikuti oleh orang-orang lanjut usia. Di tahun ini jamaah yang mengikuti ibadah suluk terdiri dari barbagai daerah, seperti dari Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Tengah, Bener Meriah, Simeulu, Gayo Lues, Aceh Timur dan Aceh Utara dengan jumlah sebanyak 300 jamaah.





