Safrizal: Aceh Memasuki Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Mulai 1 Agustus 2026


Banda Aceh – Pujatv.com Pemerintah akan memulai masa rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana hidrometeorologi Sumatra di Aceh pada 1 Agustus 2026. Tahap ini menandai berakhirnya masa transisi darurat yang dijadwalkan selesai pada 30 Juli 2026. Untuk mendukung pemulihan tersebut, Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran sebesar Rp100,1 triliun bagi tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, Aceh memperoleh porsi terbesar, yakni sekitar Rp58,9 triliun di luar alokasi APBN reguler.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri sekaligus Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Dr. Safrizal ZA, saat menjadi narasumber podcast UIN Ar-Raniry dan Serambi Indonesia di Banda Aceh, Kamis (23/7/2026). Menurut Safrizal, seluruh proses pemulihan telah dimasukkan ke dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra. Anggaran untuk Aceh dibagi dalam tiga tahap, yakni Rp24,215 triliun pada 2026, Rp20,219 triliun pada 2027, dan Rp14,539 triliun pada 2028.

Safrizal menjelaskan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra merupakan salah satu bencana dengan cakupan wilayah terluas di Indonesia. Di Aceh sendiri, bencana berdampak pada 18 kabupaten/kota, 226 kecamatan, dan sekitar 3.300 gampong. Musibah tersebut menyebabkan ratusan korban jiwa, puluhan ribu rumah rusak, kerusakan infrastruktur, serta memaksa jutaan warga terdampak mengungsi.
Ia menegaskan sejak hari pertama bencana, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BUMN, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat bergerak melakukan penyelamatan korban, penyediaan logistik, pembangunan dapur umum, hingga pemulihan infrastruktur dasar. Saat ini, berbagai sektor telah menunjukkan kemajuan signifikan, di antaranya 46 ruas jalan nasional dan 23 jembatan nasional telah kembali berfungsi penuh. Sebanyak 94,2 persen jalan daerah juga telah diperbaiki, sementara proses penanganan jembatan daerah terus berlangsung.
Di sektor pendidikan, seluruh sekolah terdampak telah kembali menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, baik di gedung asal, bangunan sementara, maupun lokasi alternatif. Seluruh puskesmas terdampak juga telah kembali memberikan pelayanan, sementara fasilitas kesehatan yang rusak berat ditangani melalui rehabilitasi, relokasi, maupun pembangunan fasilitas sementara.

Pemerintah juga terus mempercepat penyediaan hunian bagi masyarakat terdampak. Dari target 18.943 unit hunian sementara di Aceh, sebanyak 18.861 unit telah selesai dibangun dan hampir seluruhnya telah dihuni. Sementara itu, pembangunan hunian tetap juga terus berjalan dengan ratusan unit telah selesai dan ribuan lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Safrizal menegaskan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Menurutnya, kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci untuk mewujudkan pembangunan kembali Aceh yang lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh menghadapi bencana di masa mendatang.





